Kamis, 05 Maret 2009
Pushy
Aku yakin, jika nona-ku pulang sore nanti, ia akan mengkhawatirkanku karena aku tak ada untuk menyambutnya seperti biasa. Lalu ia akan mencari ke tempat-tempat dimana aku biasa bersembunyi dan sibuk menanyai kepada setiap orang saat ia tak berhasil menemukanku. Tapi sekeras apapun ia berusaha mencari, ia tak akan pernah menemukanku karena aku tak akan kembali. Tepatnya tak bisa kembali.
Dibalik keranjang rotan berbentuk persegi panjang, aku hanya dapat termanggu kelelahan setelah sekian lama berjuang dengan penuh kesia-siaan berusaha untuk melepaskan diri dalam belenggu keranjang sempit dan gelap itu. Keranjang itu terus berayun-ayun, terguncang dan dari arah luar masih terus terdengar suara menderu yang keras dan monoton.
Kemana aku kan pergi? aku tak tahu. Tapi yang pasti, ke tempat yang jauh dari rumah dimana nona berada. Ya, jauh dari nona yang manis, yang selalu ceria saat menemaniku bermain, meskipun sedikit ngotot saat mengajariku trik-trik baru dalam berakrobat. Seperti dipagi itu, saat ia begitu bersemangat mengajariku trik lompat tali dengan dua kaki, meskipun aku telah sangat kelelahan sehingga aku memutuskan untuk kabur dan bersembunyi. Hingga ia beserta nyonya dan tuan pergi, aku masih terus bersembunyi.
Saat mentari mulai berwarna keemasan, aku keluar dari persembunyian dan membuat rencana nakal dengan menunggunya dibalik pintu kamar nona, dan saat ia kembali nanti, aku akan sedikit mengejutkannya. Tapi saat malam telah terhapus, mentari kembali bersinar, nonaku masih tak kembali. Begitupun dengan Nyonya dan Tuan.
Meskipun begitu, aku percaya nona pasti akan kembali. Sehingga tak terasa telah 2 malam kulewati hingga saat tadi pagi kudengar suara kunci pintu diputar, aku begitu gembira dan lupa akan rencanaku. Namun aku langsung merasa gusar saat kuketahui, orang tersebut bukanlah nona, nyonya ataupun tuan, tetapi sepasang suami istri, yang oleh nona biasa dipanggil sebagai Om dan Tante, selain itu juga ada seorang laki-laki lain yang tidak kukenal.
Tak seperti biasa, om dan tante yang selama ini selalu terlihat ceria kali ini begitu diam. Terlebih saat Tante melihatku yang menyembul di balik gorden, matanya yang bengkak langsung meleleh kemudian jatuh terduduk di samping om yang mematung. Aku yang tak mengerti hanya terdiam dan rupanya tak disia-siakan oleh sang pria asing untuk menangkapku lalu memasukkanku kedalam keranjang rotan berbentuk persegi panjang lalu menguncinya rapat-rapat.
*****
Goncangan itu akhirnya berhenti. Lalu terdengar suara pintu yang dibuka kemudian ditutup dengan kasar. lalu orang berkata ”Terimaksih ya, tumpangannya.”
”Tidak, justru kami yang harus berterimakasih karena telah bersedia merawat Pushy.”
”Tidak masalah, salam ya buat keluarga yang lain, semoga kalian semua diberi ketabahan dan kekuatan untuk dapat menerima semuanya dengan ikhlas”
kemudian lelaki asing itu membawaku pergi yang masih tetap terkurung dalam keranjang. Dari balik keranjang yang berlubang-lubang, aku dapat melihat suasana yang ada di sekelilingku. Ah, aku ingat dimana ini. Nyonya dan Nona pernah sekali waktu membawaku ke sini. Ya, ular besi itu. Berbentuk panjang, bersambung-sambung, dapat bergerak cepat dan terkadang mengeluarkan suara seperti peluit.
Aku ingat, saat itu nona membawaku dalam keranjang rotan yang sama seperti ini. Nona yang merasa iba melihatku terkurung, memutuskan untuk mengeluarkanku sebentar. Aku yang memang telah merasa pegal karena merunduk terlalu lama langsung meloncat dan berlari-lari menimbulkan sedikit kekacauan, sehingga nyonya mendapatkan peringatan dari pria berseragam dan pandangan sinis orang-orang yang merasa kenyamanannya terganggu. Nona yang mendapatkan jeweran di telinga kanannya, dengan sedikit terisak memasukkanku kembali kedalam keranjang.
Tiba-tiba peluit panjang berbunyi, ular besi itu mulai bergerak. Semakin cepat lalu menghilang. Beberapa menit kemudian dari arah pengeras suara terdengar suara yang sanggup membuat orang-orang termasuk lelaki ini berdiri berjajar dibalik garis batas berwarna putih. Lalu dari arah berlawanan dengan ular besi pertama bergerak, terdengar suara menderu yang semakin mendekat.
Rupanya ular besi itu telah kembali. Secepat itukah? Eh, tunggu. Kali ini terlihat sangat berbeda. Begitu dekil dan lihat! ia tak berpintu. Selain itu, orang tak hanya berada di dalam, tapi juga diluar, menggantung, bahkan diatap.
Oh Tuhan, sepertinya katarak telah merajai kedua mata lelaki ini. Meskipun benda itu telah terlihat sangat obesitas, ia diikuti beberapa orang lain memaksa menerobos masuk. Menggeliat, mendorong, dan begitu seterusnya secara berulang hingga pada akhirnya ia tak dapat lagi bergerak. Terjebak dalam himpitan puluhan orang. Meski sesak, peluh mengalir, tapi dapat kulihat bibirnya menyungging penuh kemenangan.
Dari balik keranjang yang didekap erat oleh lelaki asing itu, aku dapat merasakan bahwa keadaan mereka tak lebih layak dari apa yang kualami saat ini. Terampas dalam hak dasar suatu makhluk hidup yaitu hak ruang. Meskipun ada beberapa perbedaan. Dalam kasusku, aku berada di pihak ”korban” dan ”dipaksa” sedangkan bagi mereka, tak jelas siapa pelaku dan korban karena msing-masing saling ’melanggar’ dan ’dilanggar’ sehingga memberi kesan bahwa keadaan tersebut tak lain akibat dari ’keterpaksaan’.
Setelah kendaraan ini beberapa kali berhenti, lelaki ini mulai kembali mendapatkan hak ruang pribadinya karena persentase jumlah orang yang turun lebih besar daripada yang naik. Lelaki ini pada akhirnya mendapatkan tempat duduk meskipun harus berebut dengan seorang wanita. Menyaksikannya, aku hanya dapat mengerang tanda tak setuju akan tingkahnya itu.
Setelah persentasi jumlah orang telah jauh berkurang, suasana didalam sini langsung berubah. Himpitan rapat manusia telah berganti menjadi rangkaian episode kehidupan yang bersambung tak terputus. Sungguh berbeda dengan ingatan yang kubawa saat ini yaitu saat aku, nona dan nyonya menaiki benda ini beberapa waktu yang lalu. Saat itu, suasana didalam sini begitu ramah. Sejak pertama kali melangkah, setelah melewati pintu yang secara otomatis terbuka dan tertutup, kami disambut oleh udara yang sejuk. Lalu nyonya, nona, dan aku (yang saat itu berada di dalam keranjang rotan) duduk dengan tenang dan nyaman dalam kursi yang empuk bersama orang-orang yang terlihat begitu santai menikmati perjalanan sambil membaca buku, koran, ataupun hanya sekedar termanggu melihat kearah luar jendela. Jika merasa lapar ataupun haus, anda tinggal membeli penganan dan minuman pada wanita ataupun pria berpakaian seragam yang mendorong troli sambil tersenyum.
Tetapi kali ini sungguh berbeda. Apakah ini kendaraan yang sama dengan waktu itu? Kupikir tidak. Ini dari jenis dan ras yang berbeda. Mungkin juga diperuntukan untuk golongan yang berbeda. Aku jadi teringat pada Garong, kaumku dari bangsa liar yang diusir Nyonya dari rumah kecilku dihalaman. ”Rumah ini disediakan untuk-ku yang bangsa rumahan bukan untuk bangsa liar ”. alasannya waktu itu.
Mozaik kehidupan yang kulihat saat ini seperti cuplikan episode drama yang terjadi berulang dan konstan. Dari arah gerbang sempit penghubung antar gerbong, muncul seorang bapak berpakaian lusuh melangkah dengan tongkat, mengucapkan kata-kata do’a sambil sebelah tangan lainnya yang bebas memegang plastik dan mengitarinya pada orang-orang disekitarnya. Setelah itu, muncul duet ibu dan anak dalam menyanyikan musik dangdut yang diputar dalam tas butut yang digendong si ibu. Suara mereka yang melenggok tak karuan tertimpa suara pria-pria muda yang mendorong troli berisi makanan, minuman atau buah.
Gadis remaja penjaja buku murahan, pria tua berkaki tunggal, dan pemuda penjaja pernak-pernik kebutuhan perempuan melintas silih berganti. Terakhir, gerombolan muda-mudi berpakaian ala Punk menutup tirai pertunjukan. Laju kendaraan ini melambat hingga akhirnya berhenti. Lelaki ini berdiri dan membawaku keluar. Jauh Meninggalkan ular besi itu, menuju ketempat yang pada akhirnya nanti menjadi rumah baruku.
Beberapa bulan kemudian, saat aku telah lama menganggap lelaki asing itu sebagai Tuan, istrinya yang gemuk sebagai Nyonya dan gadis kecil bermuka bulat itu Nona, aku bertekad tidak akan mengajarkan pada anak-anakku yang baru saja kulahirkan untuk bersembunyi saat nona, nyonya atau tuan pergi.
Meskipun hingga akhirnya mereka akan bertanya mengapa, aku tak akan mampu menjawabnya karena aku tak akan pernah tahu alasan perpisahan dengan orang-orang yang kukasihi dalam rumah lamaku itu. Suatu kenyataan gelap yang takkan pernah kuketahui itu adalah karena saat aku bersembunyi, Nona, Nyonya dan Tuan lamaku pergi berkendara keluar kota dan saat melintas perlintasan kereta api di wilayah pinggiran kota, kendaraan mereka terseret sang ular besi. Menghancurkan jasad mobil dan memisahkan roh dari raga ketiga orang didalamnya.


0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberi saran dan kritik yang bermanfaat dan beradab ya... Jazakillah