Senin, 15 November 2010

Persimpangan di Suatu Subuh




Satu

Mutiara malam semakin mengukuhkan posisinya. Malam itu tak sekelebat awanpun yag menghalangi pancaran sinar keperakannya. Begitupun dengan bilik rumah yang telah dengan setia melindungi para penghuninya selama 20 tahun. Tiada pernah mendapatkan perawatan menjadikan bilik itu rapuh dan berlubang di sana-sini. Hal ini menjadi jalan bagi cahaya rembulan untuk menelusup masuk ke dalam rumah yang gelap. Ruman bilik bersahaja itu berbentuk persegi empat, dengan sekat-sekat bilik yang membagi rumah menjadi terdiri dari dua kamar, satu ruang tamu dan dapur, tanpa toilet. Sugai yang mengalir tak jauh dari rumahnya mencukupkan kebutuhan cuci kakus penghuni rumah tersebut.



Dimalam hari, disaat semua orang terlelap, semua lampu rumah terkecuali lampu teras depan memang selalu sengaja dimatikan, untuk menghemat listrik. Namun pada sepertiga malam terakhir seperti kali ini, sebuah lampu 15 watt disalah satu kamar menyala, menampakan sesosok perempuan setengah baya tengah khusu duduk bersimpuh diatas sajadah tua. Ritual Sholat Tahajud malam ini jauh lebih lama dari biasanya, begitupun dengan Doa yang dipanjatkannya. Beberapa jam kedepan, ia harus meneguhkan keputusan sulit dan memberikan jawaban. Itu sebabnya malam ini ia meminta kekuatan dan keteguhan hati kepada sang Maha Segalanya.

Setelah berdoa, perempuan itu melepas dan melipat mukena dan sajadahnya. Ia lalu beranjak dan menuju teras depan rumahnya. Dinginnya angin malam menyapanya saat ia membuka pintu dan melangkah ke luar. Cahaya bulan menjadikan malam remang-remang dan tampak begitu cantik. Ditemani suara jangkrik dan gemericik suara arus sungai, ia duduk diatas dipan yang lembab. Lantai tanah yang berembun membasahi telapak kakinya yang telanjang.

Matanya memandang jauh kedepan, menerobos celah pandangan yang terimpit bilik rumah-rumah semi permanen tetangganya. Terus menuju hamparan kebun yang tampak gelap gulita. Di kebun itu, pandangannya terhenti, sedang pikirannya kembali melayang pada peristiwa-peristiwa sebelumnya.



Dua

“Tak mungkin harga cabe kami serendah ini. Kemarin kudengar di berita radio yang ada di balai desa, katanya harga cabe di pasar sedang naik” Una berkata dengan mata terbeliak. Nafasnya tertahan sejenak saat Mang Juneb menawar harga cabe hasil panen yang dibawa oleh dirinya dan ibunya.
“Itu di pasar mana? Kamu jangan sok tahu, aku yang paling tahu harga di pasar! Lagipula ini lihat, cabe yang kalian bawa banyak yang rusak. Jadi harga itu sudah sangat bagus”. Timpal mang Juneb enteng.
“Tapi jika begini, kami bisa rugi”
“Kalo tidak mau ya sudah, jual saja sana sendiri ke pasar!!” Ujar mang Juneb pedas. Ia tahu, mantra sakti yang ia ucapkan hampir selalu dapat mengatasi petani bengal seperti Una. Letak desa yang terpencil dan mahalnya biaya transportasi menuju ke kota, biasanya menjadikan petani-petani miskin tak punya pilihan. Tebakannya kali inipun tepat. Beberapa menit kemudian, mangsanya akhirnya pasrah dan pergi. Ia telah menang.


Tiga

Diruang tamu rumahnya, Una duduk di kursi rotan tua. Dengan menggunakan pinsil yang panjangnya telah tak lebih panjang dari jari telunjuknya dan buku kumal keriting, Una tampak serius mencatat dan menghitung. Seamplop tipis uang hasil penjualan panen cabe tergeletak di atas meja rotan disampingnya. Bu Iyah ibunya, yang juga terduduk di kursi rotan disebelahnya, sambil melipat pakaian yang telah kering diam-diam memperhatikannya dengan cemas. Kebisuan yang panjang akhirnya pecah oleh suara erangan kemarahan tertahan bujangnya. Matanya meyipit dan tangan kanannya terkepal menyembunyikan pensil pendeknya.
“Kadal busuk! Aku yakin, setan kampung itu kali inipun memperdaya kita. Mampus benar kali ini kita! Mampus!” geramnya.
“Jaga bicaramu Una! Tak baik bersumpah serapah. Sabar…”
“Sabar? Ini lihat” ucap Una sambil sebelah tangannya menjulur menyerahkan buku berisi hitung-hitungan biaya pengeluaran dan pendapatan panen kali ini. Namun ibunya membiarkan saja tangan itu terjulur. Alih-alih mengambil buku itu, ia meneruskan melipat pakain.

“Mak sudah bilang, kali ini tak perlu dihitung berapa selisih antara pengeluaran dan pendapatan bertani kita. Lagipula kerugian kali ini juga bukan karena mang Juneb. Panen cabe kita memang banyak yang rusak karena hama dan cuaca yang kurang bersahabat. Mungkin ini memang sudah takdir Tuhan. Kali ini kita diuji oleh buruknya hasil panen. Namun sebetulnya kondisi kita masih jauh lebih beruntung dengan nasib petani lain yang benar-benar mengalami gagal panen. Seperti Wak Ace yang lahannya kebanjiran tepat seminggu sebelum masa panen. Beruntung, lahan kita terletak didataran lebih tinggi, jadi tidak ikut tersapu banjir”.

Mendengar uraian panjangnya, tangan yang terjulur itu akhirnya melayang jatuh. Una memandang nanar wajah ibunya. Padahal usia ibunya baru hampir menginjak 40 tahun, tapi kerut-kerut kulitnya telah mulai tampak jelas. Kerasnya hidup sebagai ibu sekaligus kepala keluarga petani karena suaminya telah meninggal 17 tahun silam namun tidak diimbangi oleh makanan yang cukup dan bergizi mungkin telah membuatnya terlihat layu.  Kondisi fisik Una sendiri tak bisa dibilang berkembang dengan baik. Una melewati masa tumbuh kembangnya dengan kekurangan gizi dan bekerja keras di kebun membantu ibunya. Hal ini menjadikan tubuhnya kecil, kurus, berkulit kering, rambut rapuh, dan bermata cekung. Hidup hanya berdua dengan ibunya menjadikan dirinya sangat mahfum akan karakter ibunya yang selalu menemukan alasan untuk selalu bersyukur di suatu kondisi sesulit apapun. Namun kali ini ia sangat sulit untuk sejalan dengan ibunya.  

Una menghela nafas panjang. Kepalanya disenderkan ke bilik dan menengadah keatas. Menatap atap rumah biliknya yang bolong di beberapa bagian sehingga terpaksa ditambal plastik. “Jadi menurut mak, segala sesuatu yang terjadi pada kita ini adalah semata-mata karena takdir? Hidup sengsara sebagai petani adalah ketetapan mutlak yang tak bisa dibantah?” Una bertanya dengan tanpa mengalihkan pandangannya. Ibunya diam.

“Jika begitu, untuk apa Tuhan membedakan antara Qodo dan Qodar? Whehehehe……. Lucu sekali hidup ini. Petani seperti kita susah payah menanam padi dan sayuran. Berkotor-kotor dan berkeringat tak peduli waktu dan cuaca. Tapi jangankan untung banyak, bisa balik modal dan membayar lunas hutang-hutang saja sudah untung. Bahkan mengalami rugi seperti kali inipun harus tetap merasa beruntung. Beda benar dengan Mang Juneb, pengumpul alas itu. Tinggal ongkang-ongkang kaki menunggu panen tapi lihat saja, tahun inipun dia sudah beli mobil baru. Atau Mak Konah yang berlaku seperti malaikat bertaring itu. Mak tahu, tangan gembulnya semakin tertutupi gelang-gelang emas. Ah, tapi memang bodoh benar, orang seperti kita masih saja meminjam uang kepadanya. Atau seperti orang-orang kota itu, bukan penanam tapi bisa makan tiap hari, sedang kita penanamnya seringkali masih perlu menahan lapar. Atau juga seperti……………...”

“Hush! Cukup! Tak baik berprasangka buruk dan membanding-bandingkan nasib”. Sela ibunya gerah.

“Whehehehe…. Aku tak berprasangka buruk mak, tapi aku hanya berbicara tentang keganjilan hidup” jawabnya terkekeh sambil melirik ke arah ibunya.

Tiba-tiba matanya tertumbuk pada stiker bergambar lambang partai dan stiker berhias wajah tersenyum sumringah seorang mantan calon pembesar negri pada pemilu lalu. Stiker-stiker itu tertempel pada bilik dekat jendela disamping emaknya yang tengah duduk melipat pakaian. Melihat itu, darahnya tiba-tiba mendesir naik. Una lalu bangkit mendekat dan dengan perasaan tertipu dan dipermainkan yang menyesaki dadanya, ia mulai mencabuti stiker-stiker itu dengan kasar.

Ia ingat betul saat pesta demokrasi lalu, petani miskin seperti dirinya bagaikan berada diatas angin. Banyak partai-partai mencoba menarik simpatinya dengan memberikan berbagai macam bantuan, pembagian kaos gratis disertai dengan ucapan-ucapan yang menumbuhkan kebanggaan dan harapan sebagai petani. Bahkan dirinya mempunyai pengalaman khusus yaitu pernah diajak berfoto bersama oleh salah satu calon pembesar negri saat itu yang saat ini stikernya tengah ia cabut. Siang hari itu, ia sedang mencangkul seorang diri di petak kebun satu-satunya milik keluarganya. Tanpa sadar serombongan orang berpakaian modern dan rapi menghampirinya. Seorang pria kelimis lalu bertanya beberapa hal. Selanjutnya ia meminta untuk foto bersama.

Peristiwa foto bersama itu meninggalkan kesan tersendiri bagi Una. Tak lama, ia pun tahu bahwa lelaki yang telah berfoto bersamanya tempo hari adalah salah seorang calon pembesar negri. Dirinyapun kemudian tanpa sadar menjadi begitu fanatik pada calon itu. Setiap ada ajakan untuk pawai atau hadir meramaikan pidato-pidato massanya, Una selalu menyempatkan diri untuk ikut. Selain karena lumayan mendapat uang lelah, makan, kaos dan jalan-jalan gratis, Una seringkali terpesona pada pidato-pidato calon itu yang terdengar begitu menjanjikan dan nyata.

Namun setelah beberapa waktu berselang, kebanggaan akan jagoannya yang menang lambat laun sirna. Una mulai tersadar, sejak kemenangan itu tak ada lagi bantuan-bantuan dan jalan-jalan gratis. Segalanya menjadi sepi dan seakan terlupakan. Seperti janji-janji yang dulu sering didengung-dengungkan khususnya janji peningkatan kesejahteraan petani dan anti kemiskinan, mulai terasa hanya bagai angin lalu. Kenyataannya, hidup dirinya dan ibunya semakin sulit dengan hutang yang semakin menjerat dan perut melilit.

Setelah memastikan stiker-stiker itu terlepas sempurna, Una kembali menghempaskan diri, terduduk di kursi rotan. Matanya kembali menatap ibunya yang juga tengah menatapnya heran.
“Mak….. masih ingatkah pada Suhe, anak Wak Haji Mamat?” tanya Una yang kemudian dibalas dengan anggukan ringan ibunya.
“Dia sudah dua tahun bekerja sebagai Satpam di suatu perumahan elit di Kota. Minggu lalu dia pulang kampung. Gagah betul seragamnya mak, seperti polisi. Dia juga sekarang punya Hp canggih. Bisa berfoto, merekam video dan memutar lagu” cerita Una semangat.

Ibunya menatap Una dengan curiga, berusaha menebak kemana arah perbincangan ini.
Menyadari hal itu, Una melanjutkan. “Suhe bilang bahwa perumahan itu membutuhkan satpam baru untuk menggantikan satpam lama yang keluar. Lalu dia menawarkan pekerjaan itu pada Una. Jika Una setuju, Una bisa langsung ikut Suhe besok sore ke Kota”.

Beberapa menit kemudian hening. Bu Iyah masih masih tampak terkejut dan berusaha mencoba mencerna maksud anak satu-satunya itu. Sejak suaminya meninggal 17 tahun lalu, saat Una masih berusia 2 tahun, bu Iyah hanya hidup berdua dengan Una.
 “Tapi… jika kamu pergi, siapa yang akan membantu emak di rumah dan di kebun?” tanya ibunya lirih.
“Emak bisa ikut Una. Kita titipkan saja rumah dan kebun kita pada Ua Jenal.  Percuma terus bertani jika hanya sekedar untuk makan saja sulit”. Jawab Una.

Bu Iyah terenyak, Tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk meninggalkan kampung kelahirannya. “Tidak….. mak tidak bisa. Bagaimanapun kebun itu sumber penopang kehidupan kita dan bertani adalah pekerjaan turun temurun”.
“Pekerjaan turun temurun bukan berarti kewajiban kan mak, buktinya banyak yang meninggalkan kampung dan merantau ke kota atau bahkan ke luar negri. Jika diperhatikan, tinggal Una seorang pemuda kampung ini yang tidak pernah merantau. Ayolah mak, dengan hasil penjualan panen kali ini, untuk modal bertanam selanjutnya saja tidak cukup. Mau pinjam  lagi pada Mak Konah? Hutang dan bunga dari pinjaman sebelumnya saja belum lunas”. Bujuk Una.

Mendengar bujukan anaknya, Bu Iyah hanya terdiam. Dia sangat menyayangi anaknya namun ia juga mencintai kampung dan kebunnya. Terlebih kebunnya yang merupakan peninggalan alm.suaminya. Kebun seluas 300 m2 itu dibeli dengan hasil keringat berdua, 22 tahun silam, setelah 4 tahun menumpang bertani di lahan milik orang tua bu Iyah. Dulu, penghasilan kebun masih lumayan dan masih ada sisa untuk ditabung untuk kemudian dibelikan tanah. Namun semakin tahun berganti, hasil pertanian cenderung terus menurun. Cuaca yang semakin sulit diprediksi dan hama yang semakin tak terkendali menjadikan Bu Iyah dan petani lain sering gigit jari.

Sebetulnya kampungnya telah beberapa kali didatangi oleh orang-orang berseragam pemerintah dan diajari cara bertani yang katanya lebih menguntungkan. Selain itu juga pernah diajari oleh orang-orang yang berpakaian lebih santai tapi rapi mengenai masalah pertanian. Namun Bu Iyah, tak pernah hadir. Bukan karena tak tertarik tapi biasanya yang hadir umumnya bapak-bapak yang punya pengaruh di kampung. Meskipun terdapat juga pertemuan ibu-ibu, namun biasanya mereka adalah ibu-ibu petani dari kaum yang sanggup membeli ataupun menghutang baju baru untuk menghadiri pertemuan-pertemuan. Selain itu  guru-guru asing itu seperti timbul dan tenggelam. Tiba-tiba hadir dan kemudian menghilang silih berganti. Kini, selama dua tahun terakhir tak satupun dari mereka yang kembali muncul di desa terpencil ini.

Kegagalan demi kegalalan dalam bertani menjadikan sebagian warganya khususnya laki-laki dan perempuan muda memutuskan untuk merantau. Biasanya mereka kembali hanya saat masa panen dan terkadang pada masa tanam, juga saat lebaran. Selebihnya segala hal tetek bengek pengurusan tanaman menjadi tanggung jawab keluarga yang tinggal di kampung. Itu berarti adalah  laki-laki dan perempuan tua dan anak-anak. Bayangan ditinggalkan anaknya sendiri dikampung membuatnya sangat cemas. Sejak Una ada dalam kandungan, tak pernah ia terpisah dengan anaknya begitu jauh dan lama.

Melihat ibunya masih terus terdiam, dengan berat Una berkata “ Terserah Mak, Ikut Una ke Kota atau tetap tinggal dikampung”.


Empat

Malamkan segera berakhir. Lambat laun suara jangkrik tenggelam oleh suara kokok ayam jantan yang terbangun. Jendela-jendela dan pintu-pintu rumah tetangganya satu persatu dibuka. Gemericik air mulai terdengar dari arah kamar mandi tetangga. Sedangkan beberapa tetangga yang rumahnya belum memiliki kamar mandi satu persatu keluar menuju cubluk pinggir sungai. Sesosok pria bersarung, berbaju koko dan berkopiah terlihat bergegas ke arah masjid. Tak lama kemudian, azan subuhpun mulai terdengar mengalun merdu. Mengiringi turunnya rembulan dan naiknya mentari, menyebabkan langit berangsur-angsur berwarna Jingga. Bu Iyah tersenyum, hatinya telah bulat. Dirinya tak akan meninggalkan kampung dan kebunnya. Meski segalanya akan berubah.




0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi saran dan kritik yang bermanfaat dan beradab ya... Jazakillah