Senin, 15 November 2010




Mimpi


Mimpi itu terbangun
Dalam percik api anggun

Perjalanan Satu Babak


Entah berjalan atau berlari
Aku
Dalam arus sunyi

Balada Tiga Pria Besar


Dibawah beringin tua
Tiga pria besar bersumpah setia
Saling berpunggungan mengangkat senjata
Demi kita semua katanya

Saat ku Kembali


Kali ini ku kembali
kedalam ruang segi enam
lapang, berundak

Bingkisan Rahasia


Dalam tiada Ia menimbangku, Ragu
lalu Ia siapkan 2 buah bingkisan
dan meletakkannya di dadaku
”ini untukmu” UjarNya, sambil lalu

Do’a Petani Tua



Seperti Mentari yang tidak pernah lelah bersinar
Rembulanpun tak pernah bosan menunggu
Datangnya  kelam untuk menjadi penghias malam
Ataupun bagai Bumi yang terus berputar
Bergantian antara gelap dan terang
Juga musim; basah dan kering
Semua patuh dan bersabar
Menunggu giliran

Persimpangan di Suatu Subuh




Satu

Mutiara malam semakin mengukuhkan posisinya. Malam itu tak sekelebat awanpun yag menghalangi pancaran sinar keperakannya. Begitupun dengan bilik rumah yang telah dengan setia melindungi para penghuninya selama 20 tahun. Tiada pernah mendapatkan perawatan menjadikan bilik itu rapuh dan berlubang di sana-sini. Hal ini menjadi jalan bagi cahaya rembulan untuk menelusup masuk ke dalam rumah yang gelap. Ruman bilik bersahaja itu berbentuk persegi empat, dengan sekat-sekat bilik yang membagi rumah menjadi terdiri dari dua kamar, satu ruang tamu dan dapur, tanpa toilet. Sugai yang mengalir tak jauh dari rumahnya mencukupkan kebutuhan cuci kakus penghuni rumah tersebut.