Seperti Mentari yang tidak pernah lelah bersinar
Rembulanpun tak pernah bosan menunggu
Datangnya kelam untuk menjadi penghias malam
Ataupun bagai Bumi yang terus berputar
Bergantian antara gelap dan terang
Juga musim; basah dan kering
Semua patuh dan bersabar
Menunggu giliran
Namun entah sejak kapan
Kini segalanya terasa lain
Bagai antrian sembako murah
Atau anak-anak ingusan dalam ritual saweran
Segalanya nampak tak sabaran
Suasana gerah membuat pening
Norma bergantian terlupa sudah
Rintik hujan menyerbu deras saat mentari seharusnya berjaya
Sedang awan malah mandul saat dukun menari-menari ditengah ladang kerontang
Hitung-hitungan leluhurpun mulai diragukan
Namun ramalan-ramalan baru belum jua terapal
Kekacauan waktu membuat bulu bergidik
Musuh-musuh berevolusi; mengganas dan semakin sulit dilumpuhkan
Menghancurkan kantung-kantung keringat
Dan mencuri lampion-lampion harapan
Meski tersisa berupa potongan besar atau kecil
Kemudian disulap siluman-siluman licik
Menjadi remah-remah berlumur darah
Ah, ada apa ini?
Dalam ketakberdayaan kami menyaksikan
Sepasukan raksasa bertengkar saling menyalahkan
Sedang yang lain berebut menjahit langit
Oh, perut-perut melilit
Bertahanlah meski dengan nasi aking dingin
Lanjutkanlah berdo’a hingga Tuhan mengampuni


0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberi saran dan kritik yang bermanfaat dan beradab ya... Jazakillah